Baca Artikel

PENGARUH INTELIGENSI DAN PENALARAN FORMAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 AMLAPURA

Oleh : | 05 Oktober 2015 | Dibaca : 1449 Pengunjung

PENGARUH INTELIGENSI DAN  PENALARAN FORMAL TERHADAP

PRESTASI BELAJAR  MATEMATIKA  SISWA KELAS VIII

SMP NEGERI 2  AMLAPURA.

 

Oleh

LUH SENIWATI.

SMP Negeri 2 Amlapura

 

 

ABSTRAK

Kata Kunci : Inteligensi, Penalaran Formal, Prestasi Belajar , eksogenus dan endogenus

            Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel bebas inteligensi(X1) dan penalaran formal(X2) terhadap variabel terikat prestasi belajar matematika (Y). Penelitian ini merupakan penelitian ex past facto. Penelitian ini dilaksanakan di  SMP Negeri 2 Amlapura di Kabupaten Karangasem, dengan responden sebanyak 131 orang. Responden  yang diambil   siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Amlapura. Instrumen penelitian yang digunakan adalah test penalaran formal dan test prestasi belajar matematika dengan empat pilihan. Untuk data inteligensi  menggunakan dokumen hasil test inteligensi yang standar yang telah dikeluarkan oleh lembaga peneliti IQ dari Undiksha Singaraja.

            Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif dan teknik analisis Jalur. Analisis deskriptif dilakukan untuk mengetahui kecenderungan setiap variabel dengan kategori sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, atau sangat tinggi. Analisis jalur untuk mengetahui seberapa besar pengaruh langsung dan tidak langsung variabel X1 dan X2, terhadap  variabel Y.

Hasil penelitian menunjukkan sebagai berikut  : 1) Inteligensi mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi belajar matematika sebesar 0,537  yang terkomposisi menjadi pengaruh langsung sebesar 0,308 dan pengaruh tidak langsung  sebesar 0,229.  2) Penalaran Formal mempunyai pengaruh langsung  yang signifikan  terhadap prestasi belajar matematika, sebesar 0,618 dan penalaran formal tidak memiliki pengaruh tidak langsung terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Amlapura.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ABSTRACT

LUH SENIWATI. The Effect of Intelligence and Formal Thinkingtoward Mathematic’s  Study Achievementof GradeEightStudents of SMP Negeri 2 Amlapura.

Keywords:Intelligence, Formal Thinking, Study Achievement, eksogenus, endogenus

The objective of the present study is to find out the effect of independent  variable intelligence (X1) and formal thinking (X2)toward dependent variable Mathematic’s study achievement (Y). This study belongs to the ex-post facto design. This study carried out at SMP Negeri 2 Amlapuraat Karangasem Regency with a sample of 131 respondents. The respondents were grade eight students of SMP Negeri 2 Amlapura. The instrument used in this study consisted of formal thinking test and Mathematic’s study achievement test with four choice. The data of intelligence were collected by using document taken from standard intelligence test result  of Undiksha IQ Research Departement, Singaraja.

The data were analysed by descriptive analysis and path analysis technique.           Descriptive analysis aimed at finding out the tendency of each variable using categories of very low, low, average, high, and very high. Path analysis technique aimed at finding out the direct effect and indirect effect contribution of variable X1 and X2 toward variable Y.

Findings of the study showed that : 1) Intelligence had a positive and significant effect toward Mathematic’s study achievement with 0,537 total contribution, and composed of the direct effect was 0,308 and indirect effect was 0,229.  2) Formal thinking had  a significant direct effect toward Mathematic’s study achievement with 0,618 total contribution and formal thinking did not have indirect effect toward Mathematic’s study achievement grade eight students of SMP Negeri 2 Amlapura.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.      PENDAHULUAN

SMP Negeri 2 Amlapura merupakan salah satu lembaga pendidikan menengah yang menyelenggarakan jalur vokasi (UU RI No.20 pasal 20 ayat 1 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS ). SMP Negeri 2 Amlapura berdiri tanggal 1 juni 1979, yang terletak dijantung kota. Jumlah siswa dari tahun ketahun semakin meningkat sehingga pada akhirnya jumlah penerimaan siswa baru ditetapkan sebanyak tujuh kelas/tahun.

Pengaturan beban belajar SMP Negeri 2 Amlapura dilaksanakan dengan menggunakan sistem paket. Sistem paket adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya diwajibkan mengikuti seluruh program pembelajaran dan belajar yang sudah ditetapkan untuk setiap kelas sesuai dengan setruktur kurikulum satuan pendidikan tersebut.

Beban belajar setiap mata pelajaran dinyatakan dalam satuan jam pembelajaran. Beban belajar dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran melalui penugasan, setruktur dan kegiatan mandiri tidak tersetruktur. Semua itu dimaksudkan untuk mencapai standar kompetensi lulusan dengan memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik. Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Beban belajar kegiatan tatap muka perjam pembelajaran selama  40  menit.

Beban belajar kegiatan tatap muka perminggu pada satuan pendidikan SMP Negeri 2 Amlapura adalah 42. Kegiatan mandiri tidak tersetruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu untuk penugasan tersetruktur dan kegiatan mandiri tidak ter setruktur bagi peserta didik maksimum 50% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan. Penyelesaian program pendidikan dengan menggunaakan sistem paket adalah tiga tahun ( Dipetik dari Kurikulum SMP Negeri 2 Amlapura tahun pelajaran 2010/2011).

Dari hasil observasi awal diketahui bahwa prestasi belajar matematika dapat dilihat pada  tabel berikut;

Tabel 1.1

Prestasi Belajar Matematika Di SMPN 2 Amlapura

Interval Nilai

Pemahaman Konsep

Penalaran Konsep

Pemecahan Masalah

60-69

117

134

150

70-79

53

40

26

80-89

20

21

22

90-99

20

15

12

     Dipetik dari hasil ulangan harian II Semester 1 matematika kelas VIII 2010/2011. 

Dari tabel di atas tampak siswa yang mendapat skor 69 ke bawah berjumlah 133 orang sehingga perlu adanya perbaikan khususnya siswa kelas VIII yang prestasinya masih rendah. Dari sekian jumlah siswa yang belajar mandiri adalah 90 orang, dan yang belajar kelompok adalah sebanyak 120 orang. Tatanan kehidupan masyarakat yang semraut (chaos) merupakan akibat dari sistem perekonomian yang tidak kuat, telah mengantarkan masyarakat bangsa pada krisis yang berkepanjangan. Krisis yang terjadi dalam berbagai bidang kehidupan sebenarnya bersumber dari rendahnya kualitas, kemampuan, dan semangat kerja. Secara jujur dapat kita katakan bahwa bangsa ini belum mampu mandiri dan terlalu banyak mengandalkan intervensi pihak asing.

Untuk itu, dalam proses reformasi peningkatan kualitas SDM. merupakan hal yang pertama dan utama. Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan prasyarat mutlak untuk mencapai tujuan pembangunan. Salah satu wahana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia tersebut adalah pendidikan sehingga kualitas pendidikan harus senantiasa ditingkatkan. Sebagai faktor penentu keberhasilan pembangunan, pada tempatnyalah kualitas SDM ditingkatkan melalui berbagai program pendidikan yang dilaksanakan secara sistematis dan terarah berdasarkan kepentingan yang mengacu pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dan dilandasi oleh keimanan dan ketakwaan (Imtaq). Pendidikan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan suatu bangsa, dan merupakan wahana dalam menerjemahkan pesan-pesan kontribusi serta sarana dalam membangun watak bangsa (Nation Character Building).

Masyarakat yang cerdas akan memberi nuansa kehidupan yang cerdas pula, dan secara progresif akan membentuk kemandirian. Masyarakat bangsa yang demikian merupakan investasi besar untuk berjuang ke luar dari krisis dan menghadapi dunia global. (Mulyasa, 2002:3-4).Usaha yang telah dilakukan adalah melalui pengembangan kurikulum, peningkatan kuwalitas sumber daya manusia terutama staf pengajar, peningkatan fasilitas dan sarana belajar, serta fasilitas penunjang lainnya.

            Penelitian yang dilakukan oleh H. Veithzal Rivai (2000) menyimpulkan  bahwa kecerdasan intelektual merupakan variabel yang strategis, artinya langkah paling efektif untuk meningkatkan hasil belajar adalah melalui peningkatan kecerdasan intelektual. Lebih lanjut LL. Thurstone dalam  Wasty Soemanto ( 2003:145) menyebutkan bahwa Inteligensi itu menyangkut tujuh kemampuan primer yaitu kemampuan matematis, kemampuan verbal, kemampuan abstraksi berupa visualisasi atau berfikir, kemampuan menghubungkan kata-kata, kemampuan membuat keputusan, kemampuan mengenal atau mengamati, dan kemampuan mengingat.

            Prinsip belajar yang dikemukakan oleh Sardiman (2005:24) menyatakan bahwa belajar akan lebih mantap dan efektif, bila didorong dengan motivasi, terutama dari dalam atau intrinsic motivation. Selanjutnya Sardiman ( 2005: 26-28) menyebutkan bahwa tujuan belajar tersebut ada tiga jenis yaitu (a) untuk mendapatkan pengetahuan, (b) penanaman konsep dan keterampilan, dan (c) pembentukan sikap. Kegiatan belajar itu cenderung diketahui sebagai suatu proses psikologis, terjadi di dalam diri seseorang. Oleh Karena itu sulit diketahui dengan pasti bagaimana terjadinya.

Menurut Daniel Goleman,  (1996),orang yang mempunyai IQ tinggi tapi EQ rendah cenderung mengalami kegagalan yang lebih besar dibanding dengan orang yang IQ nya rata – rata tetapi EQ nya tinggi. Artinya bahwa penggunaan EQ atau olah rasa justru menjadi hal yang sangat penting, dimana menurut Goleman, dalam dunia kerja yang berperan dalam kesuksesan karir  seseorang adalah  85% EQ dan 15% IQ. Jadi peran EQ sangat signifikan. Siswa perlu mengembangkan IQ menyangkut pengetahuan dan keterampilan, namun siswa juga harus dapat menampilkan EQ yang sebaik – baiknya karena EQ harus dilatih. Untuk meningkatkan kemampuan IQ dan EQ agar dapat memanfaatkan hati nurani yang terdalam maka siswa juga harus membina SQ yang merupakan cerminan hubungan siswa dengan Tuhan Yang Maha Esa, melalui SQ siswa dilatih menggunakan ketulusan hati sehingga siswa dapat mempertajam apa yang dapat mereka tampilkan.

Gardner (2002) memaparkan pengertian kecerdasan  (intelligent) mencakup tiga faktor yaitu: 1) kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia, 2) kemampuan untuk menghasilkan persoalan – persoalan baru untuk diselesaikan dan 3) kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang akan memunculkan penghargaan dalam budaya seorang individu. Untuk melengkapi perlu  dipahami suatu kesimpulan bahwa kecerdasan merupakan potensi dasar seorang untuk berpikir, menganalisis dan mengelola tingkah lakunya didalam lingkungan dan potensi  yang dapat diukur. Ciri – ciri  kecerdasan yang dimaksud adalah (1) tojudge well (dapat menilai), (2) to comprehend well (memahami secara menyeluruh), dan (3) toreason well (memberi alasan dengan baik).

Berdasarkan uraian di atas, maka fokus kajian tulisan ini adalah (1) mengetahui besarnya pengaruh inteligensi   terhadap prestasi belajar matematika siswa SMP Negeri 2 Amlapura yang terkomposisi menjadi pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung, dan (2) mengetahui besarnya pengaruh langsung penalaran formal  terhadap prestasi belajar matematika siswa SMP Negeri 2 Amlapura.

 

 

2.      METODE PENELITIAN

Penelitian ini bersifat ex post facto artinya bahwa kejadian atau fakta ini sudah terjadi. Penelitian ini bersifat pengungkapan fakta yang ada melalui analisis hubungan antar variabel, sehingga hubungan antar variabel tersebut menjadi jelas. Peneliti tidak melakukan intervensi terhadap objek atau variabel yang diteliti. Objeknya sudah tersedia secara empiris. Variabel yang diungkap tersebut berupa variabel yang mempunyai pengaruh langsung maupun pengaruh tidak langsung (variabel intervening).

Populasi dalam penelitian ini  adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Amlapura Tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 210,. Bila dilihat dari sifatnya populasi dapat digolongkan menjadi populasi homogen dan populasi hetrogen. Populasi homogen adalah sumber data yang unsurnya memiliki sifat yang sama sehingga tidak perlu mempersoalkan jumlahnya secara kuantitatif. Sedangkan populasi hetrogen adalah sumber data yang unsurnya memiliki sifat atau keadaan yang berbeda (bervariasi) sehingga perlu ditetapkan batas-batasnya, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

Teknik untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini menggunakan  Probability Sampling (Simple Random Sampling).  Untuk menentukan jumlah anggota sampel/ukuran sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan tabel penentuan jumlah sampel dari populasi tertentu yang dikembangkan dari Isaac dan Michael untuk tingkat kesalahan 5%. Berdasarkan tabel penentuan jumlah sampel sampel yang  digunakan untuk penelitian adalah 131 siswa yang diambil secara random.

Data yang terkumpul dalam penelitian ini adalah data tentang Inteligensi siswa, Penalaran formal, dan Prestasibelajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 2Amlapura. Untuk memperoleh data tersebut digunakan tiga buah instrumen yaitu :(1) test inteligensi, (2) tes kemampuan penalaran formal,dan (3) tes prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Amlapura.

             Secara konseptual Inteligensi dalam penelitian ini didefinisikan sebagai kemampuan umum dari individu untuk mengadakan penyesuaian dan pemecahan terhadap problema yang dihadapi guna meraih kecakapan dan keterampilan. Definisi ini sesuai dengan faktor  “g” dari Spearmen. Secara empirik Inteligensi siswa ditunjukkan oleh skor yang diperoleh siswa saat menjawab test Inteligensi Stándar Progressive Matrices (SPM). yang diselenggarakan oleh SMPN 2 Amlapura bekerja sama dengan UNDIKSHA Singaraja tahun 2010. Data yang  didapatkan berupa data interval.

Penalaran formal siswa adalah kemampuan berpikir yang dimiliki siswa dalam melakukan operasi-operasi formal, yang dinyatakan dalam skor hasil pengukuran penalaran formal. Untuk mengetahui penalaran formal siswa digunakan tiga aspek penalaran formal sebagai indikator, yakni penalaran kombinatorial, penalaran korelasional, dan penalaran proporsional.

Prestasi belajar matematika adalah kemampuan siswa dalam menyelesaikan permasalahan matematika setelah menjalani proses pembelajaran matematika. Prestasi belajar matematika siswa dinyatakan dalam skor hasil pengukuran kemampuan matematika siswa. Untuk mengetahui prestasi belajar siswa pada pelajaran matematika menggunakan aspek-aspek kemampuan kognitif yang meliputi pemahaman konsep, penalaran dan komunikasi, dan pemecahan masalah.

Penalaran formal merupakan kemampuan berpikir menurut suatu alur berpikir tertentu yaitu kemampuan siswa untuk berpikir secara benar dalam melakukan operasi-operasi formal. Penalaran formal siswa diukur dengan tes penalaran formal. Konstruksi tes penalaran formal siswa diukur dengan tes penalaran formal berbentuk pilihan ganda dengan empat pilihan jawaban. Penalaran formal memuat tiga dimensi yaitu dimensi penalaran kombinatorial, penalaran korelasional, dan penalaran porposional. Dimensi kombinatorial terdiri dari materi tes angka/kalimat tak teratur dengan kisi-kisi : 1) dapat melengkapi barisan bilangan yang salah satu bilangannya belum diketahui, 2) dapat menyusun kalimat yang benar dari kata-kata yang disediakan, dan materi similariti objek dengan kisi-kisi dapat membedakan gambar/objek yang disediakan.

      Prestasi belajar matematika siswa diukur dengan tes prestasi belajar yang disusun dan dikembangkan peneliti, berdasarkan materi pelajaran matematika yang tertera dalam kurikulum yaitu Lingkaran dan Bangun ruang sisi lengkung. Tes terdiri atas 40 butir dengan bobot 1 untuk jawaban benar dan 0 untuk jawaban salah.

                         

3.      HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam penelitianini disajikan hasil penelitian yang mencakup deskripsi tentang karakteristik masing – masing variabel penelitian.. Hasil penelitian yang dimaksudkan adalah menyangkut deskripsi Inteligensi, penalaran formal dan prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Amlapura tahun pelajaran 2011/2012. Disamping itu disajikan pula pengaruh langsung dan pengaruh tak langsung  antara  inteligen, penalaran formal terhadap prestasi belajar matematika.

Data mentah inteligensi yang diperoleh dari hasil pengukuran terhadap responden menunjukkan bahwa skor tertinggi dicapai responden adalah 140, sedangkan skor terendah yang dicapai responden 88.Dari hasil analisis ternyata mean untuk data Inteligensi X1 besarnya 114,15 berada pada rentangan, 100140 sehingga termasuk kriteria cukup baik.Dari hasil analisisternyata mean untuk data Penalaran Formal X2 besarnya 72,62  berada pada rentangan, 66,599,95 sehingga termasuk kriteria cukup baik.Demikian juga untuk analisi Koefisien korelasi antara penalaran formal (X2) dan prestasi belajar matemátika (Y) besarnya 0,618. Koefisien korelasi tersebut signifikan karena harga F diperoleh sebesar 79,521 dengan signifikansi 0,000 yang jauh lebih kecil dari 0,05.

Penelitian ini menemukan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara Inteligensi dengan Prestasi Belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Amlapura  sebesar.0,308. Koefisien korelasi tersebut signifikan karena harga F diperoleh sebesar 13,512 dengan signifikansi 0,000 yang jauh lebih kecil dari 0,05. Koefisien korelasi yang menyatakan kekuatan hubungan antara Inteligensi dengan Prestasil Belajar matematika siswa kelas VIII SMP Neger 2 Amlapura yaitu r = 0,308. adalah signifikan. Inteligensi memberikan kontribusi sebesar 13,51% terhadap Prestasi Belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Amlapura memberikan sumbangan yang berarti bagi Prestasi belajar matematika.

Penelitian ini menemukan bahwa terdapat pengaruh  yang positif dan signifikan antara Penalaran formal dengan prestasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Amlapura dengan koefisien korelasi R = 0,618 dan kontribusi 79,52%. Koefisien korelasi tersebut signifikan karena harga F diperoleh sebesar 79,521 dengan signifikansi 0,000 yang jauh lebih kecil dari 0,05. Koefisien korelasi yang menyatakan kekuatan hubungan antara penalaran formal dengan prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Amlapura yaitu R = 0,618 adalah signifikan. Penalaran formal memberikan kontribusi sebesar 79,52%  terhadap Prestasi Belajar matematika siswa kelas VIII SMP Neger 2 Amlapura memberikan sumbangan yang berarti bagi prestasi belajar matematika siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Amlapura.

Penelitian ini menemukan bahwa terdapat pengaruh  yang positif dan signifikan antara inteligensidengan penalaran formal dengan r = 0,371 dengan kontribusi sebesar 20,61%. Koefisien korelasi antara inteligensi(X1) dan penalaran Formal (X2) besarnya 0,371. Koefisien korelasi tersebut signifikan karena harga F diperoleh sebesar 20,612 dengan signifikansi 0,000 yang jauh lebih kecil dari 0,05. Dari analisis model jalur(Path Analysis)dan komposisi korelasinya  dengan  variabel eksogenus inteligensi(X1) terhadap variabel endogenus penalaran formal(X2) dan prestasi belajar matematika(Y) dapat diuraikan menjadi: 1) pengaruh langsung (PL) dan  2) pengaruh tidak langsung (PT), dimana pengujian model jalurnya sudah dinyatakan teruji dan benar.

4.      PENUTUP

Berdasarkan  hasil analisis dan pembahasan nampaknya ada keterkaitan antara  inteligensi siswa, penalaran formal siswa dan prestasi belajar matematika siswa SMP  Negeri 2 Amlapura. Untuk membuktikan hal tersebut perlu dilakukan penelitian yang mengungkap hubungan inteligensi, penalaran formal dan prestasi belajar matematika siswa SMP Negeri 2 Amlapura kelas VIII  semester ganjil tahun pelajaran 2011/2012. Penelitian ini tergolong penelitian expost fakto, karena gejala yang diselidiki ada secara wajar dan tidak dimanipulasi. Penelitian ini melibatkan sampel sebanyak 131 orang siswa. Analisis data yang digunakan  untuk menguji hipotesis adalah analisis jalur(Path Analysis)

Temuan penelitian menunjukkan bahwa prestasi belajar matematika  siswa SMP Negeri 2 Amlapura dipengaruhi langsung dan signifikan oleh inteligensi siswa itu sendiri. Lebih lanjut dapat dilihat bahwa prestasi belajar matematika pada siswa SMP Negeri 2 Amlapura juga dipengaruhi secara tidak langsung melalui kemampuan penalaran formal oleh inteligensi. Dari temuan ini dapat disimpulkan bahwa inteligensi  berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap prestasi belajar matematika siswa dengan penalaran formal hanya dapat terpengaruh oleh inteligensi  dan dalam penelitian ini yang termasuk variabel eksogenus (Inteligensi) terhadap variabel endogenus (Penalaran Formal  dan Prestasi Belajar Matematika)

Jadi berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.   Ada pengaruh yang signifikan antara  Inteligensi terhadap prestasi  belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Amlapura sebesar 0,537  yang terkomposisi menjadi pengaruh langsung  sebesar  0,308 dan pengaruh tak langsung sebesar 0,229.

2.   Ada pengaruh langsung penalaran formal yang  signifikan terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Amlapura sebesar 0,618 dan penalaran formal tidak memiliki pengaruh tidak langsung terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Amlapura.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2006. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta : Bumi Aksara.

Astiti, Made Sri. 2006. Tesis. Pengaruh Penerapan Matematika Realistik dan Penalaran Formal terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah pada Siswa Menengah Pertama. Singaraja : Undiksha.

Azwar, Saifuddin (2004). Metode Penelitian, Pustaka pelajar, Yogyakarta.

Candiasa, I Made. 2004. Statistik Multivariat Dilengkapi Aplikasi dengan SPSS. Singaraja. IKIP

Depdiknas. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Depdiknas.

Depdiknas. 2001. Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Tingkat Pertama. Jakarta : Pusat Kurikulum.

Depdiknas. 2006.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta : Depdiknas

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

_____. 2004a. Metodologi Research Jilid 2. Yogyakarta : Andi.

_____. 2004b. Metodologi Research Jilid 3. Yogyakarta : Andi.

Faisal Amir, Mohammad. 2006. Memngolah dan Membuat Interpretasi hasil Olahan SPSS Untuk Penelitian Ilmiah. Jakarta : Edsa Mahkota.

Hamalik, Oemar (2002), Psikologi Belajar Dan Mengajar, Sinar Baru Algensindo, Bandung.

Handoko, Martin (1994), Motivasi Daya Penggerak Tingkahlaku, Kanisius, Yoyakarta

Hardjo, Sri dan Badjuri (2005), Pengaruh Motivasi belajar Dan Cara Belajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar Di Kabupaten Semarang, http//pk.ut.ac.id/jp/12 sri rahardjo htm.

Imron, Ali (1992). Belajar dan Pembelajaran, Pustaka Jaya, Bandung.

Iskandar, H. Yul. 2000. Soal-Soal Inteligensi Test. Jakarta : Dharma Graha Group.

Jasmine, Julia. 2007. Mengajar Berbasis Multiple Intelligences. Bandung : Nuansa.

Kuntardinar, Ari (2002). Tesis dengan Judul. Analisis Faktor Motivasi, Lingkungan, Kemampuan, Dan Kinerja Dalam Hubungannya Dengan  Pengembangan Kinerja Karyawan.

Santoso, Singgih. 2006. Menguasai Statistik di Era Informasi dengan SPSS 15. Jakarta : PT Elex Media Komputindo.

Sardiman (2005). Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar, PT. Raja Gapindo Persada, Jakarta.

Sembiring, Robert, Hoogland, Kees, an Dolk, Maarten. 2010. A Decade of PMRI in Indonesia. Utrecht. Netherlands: APS dan diterbitka kembali di Bandung, Indonesia: Kementrian Pendidikan Nasional.

Siagian, Sondang, P.(2004). Teori Motivasi dan Aplikasinya, Rineka Cipta, Jakarta.

Sudarmanto, Gunawan. R. 2005. Analisis Regresi Linier Ganda dengan SPSS. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Edisi Keenam. Bandung : Tarsito.

Sudjana, Nana. 1996. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT  Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. 2006. Statistika untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta.

Sugiyono. 2003. Statistika untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta.

Sunardi. 2002. Hubungan antara Tingkat Penalaran Formal dan Tingkat Perkembangan Konsep Geometri Siswa. Jurnal Ilmu Pendidikan. Jilid 9 Nomor 1.

_____.2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007 Tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta: BNSP

_____.2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007 Tentang Standar Proses: Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: BNSP

Suparno, Paul. 2004. Teori Inteligensi Ganda dan Aplikasinya di Sekolah. Yogyakarta : Kanisius.

Surya, Mohamad (2003). Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, Bani Quraisy, Bandung.

Syiah, Muhibbin (2003). Psikologi Belajar, PT. Raja Grafindi Persada, Jakarta.

 

 

IDENTITAS PENULIS

 

1.      Nama Lengkap

2.      NIP

3.      Tempat Tugas

4.      Alamat Sekolah

5.      No. Telp. Sekolah

6.      Alamat Rumah

 

7.      HP

 

: Luh Seniwati, S.Pd., M.Pd.

: 19641211 198411 2 002

: SMP Negeri 2 Amlapura 

: Jalan Jenderal Sudirman Amlapura

: (0363)21483

:Jalan Untung Surapati Gang Samsam IIE/1,

 Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem

: 087863019062

 



Artikel Lainnya :

Lihat Arsip Artikel Lainnya :

 



Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika
Kabupaten Karangasem


I Komang Daging, S.Sos, M.Si
NIP. 19651023 198602 1 002
Banner
Kritik Saran
Polling
Bagaimana Penilaian Anda Terhadap Website Diskominfo?
Statistik

Total Hits : 1446887

Pengunjung Online: 2