PIMPINAN

SEKRETARIAT
BIDANG POSTEL

* MONITORING

* TOWER

LAPORAN
BERITA -- ARTIKEL -- AGENDA -- TESTIMONIAL -- DOWNLOAD

PostHeaderIcon USABHA PUSEH DESA PAKRAMAN PESEDAHAN 27 PRETIMA PENYUNGSUNGAN DISUCIKAN

Prosesi upacara Melasti ke Segara Sengkidu menandai dimulainya Upacara Usabha Sambah di Pura Puseh Desa Adat /Pakraman Pesedahan, yang berlangsung selama 5 hari (7 - 12 Nopember 2011 ). Kegaiatan upacara Melasti pada tanggal 7-11-2011 pagi dilakukan Mepeed sejauh 5 Km menuju Segara Sengkidu di Pura Segara setempat. Dalam perjalanan krama desa utamanya Teruna-Teruni ngiring mundut pretima penyungsungan berjumlah 27 buah ditambah 4 Dewa Sri serta 6 buah Pecanangan Betara. Urut-urutan pemargi melasti diawali barisan pengawin (Kober, Tunggul), Barisan Daa membawa Sampyan dan Payah-ayahan serta Senjata Nawa Sanga. Di ajeng memargi Ida Betara Bagus Ujung beserta 5 pratima lainnya diiring Jro Mangku Komang Suryana, diikuti pratima Ida Betara Bagus Segaa kairing Jro Mangku I Nengah Sunarjaya, pada urutan ketiga pratima Ida Betara Bagus Bebukit dengan 6 pratima diiring Jro mangku I Wayan Sukita, di tengah diawali barisan Senjata Sangkut, Jambeng lan Gentewang disusul Ida Betara Gede Jaksa, Ida Betara Bale Agung, Ida Betara Ayu Mas dan Ida Betara Ayu Batur diiring Jro mangku I Nengah Suparmi, berikutnya baru pamucuk pratima Ida Betara Lingsir ( Ida Betara Gede Rambut Petung) dan 1 buah pratima kairing Jro Mangku I Nengah Sujati (Mangku Gede) dan katuntun antuk teteken dan benang Tridatu oleh sejumlah pengiring. Rombongan paling belakang adalah pratima Ida Betara Ratu Pasek Tangkas Kori Agung dengan 4 pratima kairing Jro Mangku I Komang Suaryana dan Ida Betara Ratu Pasek Gelgel dengan 2 pratima kairing Jro Mangku I Ketut Suwendri.

 

Sesaat tiba di wilayah Sengkidu para pemangku dan prajuru desa Sengkidu segera mengikuti proses iring-iringan dengan mengambil alih ngiring mundut semua pratima sebelum katuran pemendak di Lapangan Pemanton. Saat itu pula 6 warga yang biasa ngaturang sesolahan daratan kepangluh dan dengan sebilah keris ngurek di depan pratima yang berjajar katuran banten pemendak. Tepat pukul 10 pagi seluruh pratima yang diiring sudah napak di segara. Jro Mangku Gede I Nengah Sujati memimpin prosesi Mesucian sebelum sekitar pukul 11.00 kembali mewali. Saat tiba di depan Pura Ayu Renini Pesedahan, yang merupakan salah satu Pura keramat stana saktinya Ciwa Betari Ra-nini dalam wujud rangda, Ida betara-Betari seluruhnya juga katuran pemendak

 

Pada sore harinya pujawali – piodalan dilaksanakan dipuput Ida pedanda Istri Oka dari Geria Bukit Catu Manggis diisi dengan sesolahan rejang Lilit, Tari Pendet, tari Sramanan dan iringan sesolahan Wawalen, diakhiri dengan persembahyangan bersama dengan tujuh kali pengebaktian. Upacara Usabha Sambah akan berlanjut pada Rabu 8-11-2011 dengan eed upakara Penampahan dilanjutkan keesokan harinya Pebarisan dimana Ida Betara Lingsir metinjo ke Pura Rambut Petung dan melaksanakan prosesi Mebaris mengelilingi areal Pura serta prosesi Murwedaksina di Pura Puseh, serta eed Pengusan yang ditandai pelaksanaan upacara Nyambutin seluruh pratisentana krama Pesedahan yang ada didalam maupun diluar desa dan eed upakara Penyineban pada tanggal 12-11-2011.

Nglarung Sang Hyang Sambah

Upacara Usabha Sambah yang berlangsung selama 5 hari akan diakhiri dengan eedan upakara penyineban ditandai upakara Nglarung Sang Hyang Sambah di Soring Pelemahan Desa. Menurut penjelasan Bendesa Drs. I Ketut Artana didampingi Pengulu Pengulu Desa Mk. I Gusti Ngurah Ginatra, SH dan Bendesa Kepasekan I Nyoman Wage, Ama, SH, krama Desa Adat Pesedahan berjumlah 550KK atau 1500jiwa sebagian merantau ke Denpasar, Klungkung maupun Kota lainnya sehingga setiap kali Usabha krama perantau pulang untuk mengikuti upacara besar Ida Betara Turun Kabeh tingkat Desa Adat setahun sekali. Ida Betara Sang Hyang Sambah yang distanakan pada Pujawali di Pura Puseh merupakan simbol anugrah kesuburan alam bagi krama adat Pesedahan, dimana saat upacara usabha dimaknai sebagai Ida Ratu Mapice Mertha / Nyambehang Mertha. Artinya Mertha atau zat hidup itu sudah dilimpahkan tinggal kita mampu atau tidak untuk menangkapnya/ memperolehnya dengan jalan dharma sehingga menjadi sumber kehidupan bagi pakraman.

Sedangkan upacara nyambutin yang diselenggarakan secara unik bagi anak-anak pratisentana krama Pesedahan baik yang kawin didalam desa maupun diluar desa wajib mengikutinya. Upacara tersebut merupakan tradisi upacara yang sudah diwarisi hingga kini. Sesuai dengan tujuan upacara dimaksud yakni untuk menyambut kehadiran /kelahiran kembali (reinkranasi) agar dapat menyempurnakan diri sebagai hamba manusia mahluk Tuhan yang senantiasa diliputi papa – keterbatasan. Disamping itu upacara nyambutin juga bermakna untuk menyucikan pribadi secara niskala dan tetap merasa terikat untuk ingat dengan asal muasalnya Nyungsung Kahyangan Tiga di Desa Adat Pesedahan. Oleh karenanya upacara nyambutin merupakan tradisi wajib dilaksanakan oleh semua karma yang ada dan berasal Dari Desa Adat Pesedahan sekaligus untuk memohon kerahayuan dan keselamatan di alam kehidupan.

Bagi karma predana dari desa Adat Pesedahan yang kawin keluar Desa secara garis lelintih masih tetap ada hubungan dengan Desanya, meskipun saat kawin sudah mepamit untuk kawin keluar di Sanggah Mrajannya, namun secara emosional dan psikologis tatp terkait karena jika yang bersangkutan mulih bajang atau cerai juga akhirnya akan kembali pulang kerumah asal orang tuanya atau ke desanya. Disamping sembah bakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa – Tuhan tidak boleh putus tetap saja harus melekat dimanapun berada. Mengikuti upacara Nyambutin bagi karma yang sudah kawin keluar hakekatnya adalah memohon kerahayuan pratisentana atau mendoakan agar tan keneng upadrawa. Selain bermakna mensosialisasikan diri secara sekala terhadap karma desa lain sehingga diketahui sudah berhasil memiliki pratisentane diluar desa dan sang suami juga ingat terikat dengan asal istrinya.

Proses upacara nyambutin diawali prosesi pendaftaran untuk mengatur pelaksanaan upacara Nyambutin agar bisa berlangsung lancar dan teratur, disamping itu ybs juga dikenakan punia aturan berupa Uang sebesar Rp. 15.000 bagi karma luar desa dan Rp.7.500 bagi krama dalam desa sebagai wujud aturan punia untuk pemahayu desa / digunakan untuk mepaci. Yang perlu dipersiapkan adalah banten Nyambutin seperti: Tegen-tegenan, banten Pajegan, Bu, Tehenan, Pras, Banten tandingan yang akan dihaturkan di ajeng Sang Hyang Sambah di Jaba Tengah dan di Pelinggih Sanggar Agung di Jeroan. Tegen-tegenan harus dibawa oleh suami saat pergi ke Pura sebagai symbol sanggup Negenang Nyuhunang atas tanggung jawab kepada pratisentana dan Ida sang Hyang Widhi. Yang boleh ikut adalah Suami Istri, Anak yang akan disambutin, keluarga (Orang Tua – Purusa Predana) dan anggota keluarga lain untuk turut ngaturang bakti sebagai upesaksi dan turut mendoakan kerahayuan pratisentana.

Setelah tiba di Pura yang dilakukan adalah menaruh banten Pajegan ditempat yang telah ditentukan, meletakkan tegen-tegenan di Pelinggih Sang Hyang Sambah dibantu petugas pecalang atau warga lain, menunggu prosesi nyambutin yang diatur Prajuru Adat secara bergilir sesuai nomor pendaftaran yang sudah diperoleh. Setelah prosesi selesai anak yang sudah diajak pulang ke rumah tidak diperkenankan lagi diajak ke Pura, alasannya hal ini merupakan tradisi kebiasaan turun temurun namun tetap dipercaya dan diataati oleh warga hingga kini. Namun secara niskala atau sangsi memang selama ini belum pernah ada. Bagi yang ingin tetap di Pura diperkenankan hingga selesai upacara Ida Betara Mantuk Mewali mesineb. Begitu pula jika hendak ingin tetap tinggal di Pura tidak diatur, warga boleh tetap di Pura untuk mengikuti prosesi Upacara Aci Sambah sampai selesai Ida betara Mesineb, atau pulang ke rumah tetapi tidak ke Pura lagi namun bagi orang tuanya atau keluarganya diperkenankan ke Pura lagi. Alasannya secara agama memang belum diketahui hingga kini namun hanya merupakan tradisi kebiasaan yang diwarisi dilestarikan hingga saat ini.

Upacara Nyimpen dan Ngaturang Pengebakti bagi yang Nyambutin adalah merupakan upacara rangkaian Nyambutin itu sendiri, oleh karena itu ngikuti prsesi upacara Nyimpen adalah wajib bagi yang nyambutin. Upacara Nyimpen itu sendiri adalah wujud upacara ngaturang prama suksma dan pengayubagya atas pelaksanaan upacara nyambutin dan mohon karunia kerahayuan jagat. Jenis Upakara bebanten yang perlu dipersiapkan meliputi : Tegen-tegenan, banten Pajegan, Bu, Tehenan, Pras, Banten tandingan yang akan dihaturkan di ajeng Sang Hyang Sambah di Jaba Tengah dan di Pelinggih Sanggar Agung di Jeroan.

Nilai yang terkandung dalam upacara Nyambutin antara lain Nilai Religius : Adalah nilai keagamaan yang terkandung didalam upacara nyambutin dimana inti upacaranya itu sendiri merupakan pemujaan kepada Ida Betara yang berstana di Pura Puseh melalui simbol pelinggih Sang Hyang Sambah sebagai simbolik karunia kesuburan alam dan kesejahteraan. Melalui upacara nyambutin itulah secara niskala pratisentana disambut untuk memikul tanggungjawab sebagai insan manusia agar selalu ingat akan Sangkan Paraning Dumadi, dari mana berasal dan hendak kemana menuju dalam kehidupan dunia maya pada ini. Setelah dia melalui upacara Nyambutin maka selanjutnya yang bersangkutan secara sekala diperkenankan memasuki Pura-Pura Kahyangan khususnya di Desa Adat Pesedahan, untuk melakukan persembahyangan dan mengikuti setiap upacara yang dilaksanakan. Nilai Pendidikan : didalam upacara nyambutin juga terkandung nilai pendidikan yakni mendidik dari sejak dini agar anak-anak senang bersembahyang dan mengingat lingkungan pelaksanaan upacara disekitarnya dan tertarik dating ke Pura karena rasa`ingin tahu dan merasakan getaran spiritual dalam dirinya. Nilai pendidikan lainnya adalah membiasakan antre untuk mendapatkan giliran tidak saling mendahului. Nilai sosial : upacara nyambutin juga merupakan ssialisasi diri bagi Balita yang disambutin dikenal dan diketahui leh kerabat keluarga dan masyarakat, sebagai penyambung kerukunan menyama braya. Selain mengenal anak-anak, orang tua dan keluarga juga lebih diekenal masyarakat sehingga terjalin rasa persaudaraan yang lebih kental. Nilai Kemanusiaan : melalui upacara nyambutin nilai solidaritas tenggang rasa dan kekeluargaan makin tebal, dari sebelumnya tidak pernah bertemu saat itu dipertemukan dalam suasana Nyambutin pada Upacara Paci Sambah di Pura Puseh, sehingga mempertebal rasa menyama braya dari krama desa serta nilai Kegotong-royongan : dalam upacara Nyambutin juga muncul nilai kegotong-royongan dikalangan krama dimana didalam pembuatan sesajen dan membawa persemabahan banten pajegan terjadi saling menolong diantara krama baik dalam mencari bahan untuk upacara bebanten maupun mengerjakannya.

Cari
Polling
Tampilan Website Ini Menurut Anda
 
Visitors Counter
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday35
mod_vvisit_counterYesterday158
mod_vvisit_counterThis week316
mod_vvisit_counterLast week1144
mod_vvisit_counterThis month2463
mod_vvisit_counterLast month7936
mod_vvisit_counterAll days92164
LINK